Koperasi dan UMKM | 19-May-2026

Sumedang gencarkan kultur jaringan guna perluas produksi ubi cilembu

Sumedang, Jabar, 18/5 (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Jawa Barat, menggencarkan penerapan inovasi kultur jaringan pada komoditas ubi cilembu guna memperluas penyebaran wilayah produksi dan meningkatkan produktivitas.

Kepala DKPP Sumedang Tono Suhartono mengatakan bahwa pengembangan tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan secara terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir.

"Pengembangan ubi cilembu ini terus kita dorong di hulu melalui kultur jaringan dan inovasi di hilir agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar," katanya di Sumedang, Jabar, Senin.

Dirinya menyebut pengembangan komoditas melalui teknologi kultur jaringan tersebut dilakukan dengan membawa bakteri khas di tanah asalnya agar dapat tumbuh di wilayah lain.

Menurut dia, uji coba telah dilakukan di sejumlah wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan, termasuk penanaman sekitar 5.000 bibit dengan salah satunya bekerja sama dengan 26 titik.

"Dari uji coba itu ada yang berhasil dan ada yang belum, ini menjadi bahan evaluasi kita untuk pengembangan berikutnya," katanya.

Adapun sentra ubi cilembu di Kabupaten Sumedang tersebar di empat kecamatan utama, yakni Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari, dengan total luas lahan 462 hektare.

Sementara itu, Desa Cilembu sebagai wilayah asal tercatat memiliki sekitar 229 hektare lahan budi daya dengan produksi rata-rata berkisar 1.600 hingga 1.900 ton per tahun.

Ia mengatakan bahwa produktivitas ubi cilembu di Sumedang berada pada kisaran 15 hingga 20 ton per hektare, bahkan dapat mencapai hingga 40 ton per hektare pada kondisi optimal.

Di sisi lain, ia menyebut pengembangan komoditas yang memiliki potensi besar tersebut masih menghadapi tantangan utama berupa ketergantungan pada kondisi tanah spesifik serta fluktuasi produksi.

"Tantangan kita adalah menjaga kontinuitas produksi karena harus ditanam di kondisi tanah spesifik, sedangkan permintaan pasar terus meningkat," ujarnya.

Permintaan ubi cilembu untuk kebutuhan olahan dan ekspor sendiri, menurut data DKPP Sumedang, dapat mencapai 12 hingga 40 ton per bulan sehingga kontinuitas produksi menjadi faktor penting dalam pengembangan komoditas tersebut.

Selain penguatan budi daya, Pemerintah Kabupaten Sumedang juga mendorong hilirisasi ubi cilembu melalui pengembangan produk UMKM seperti bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.

"Ubi cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami," katanya.

Hal tersebut sejalan dengan langkah pemerintah pusat yang sebelumnya menyiapkan pengembangan komoditas ubi melalui hilirisasi untuk meningkatkan kualitas ekspor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dirinya menambahkan bahwa pengembangan ubi cilembu diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi petani sekaligus menjadikan komoditas tersebut sebagai salah satu unggulan berkelanjutan Sumedang.


Oleh Ilham Nugraha
Editor : Kelik Dewanto

Berita terkait

|

IKUTI MEDIA SOSIAL KAMI

Follow media sosial kami untuk mendapatkan produk terbaik, informasi, pengalaman menarik dan inspiratif.

SEKILAS

Kami adalah e-commerce hybrid, sebuah rumah untuk memasarkan produk UMKM Indonesia kualitas terbaik. Nikmati produk kuliner, fashion, kriya, minuman herbal, dan jasa. Juga rubrik Inspiring Life, Jurnal & Peraturan, Berita.

Copyright © 2026 | Powered by Bumi Alumni