Dari Warung Kopi, Warnet, Bank, Kebangkrutan, hingga Kerupuk Geboy Putra
Siapa yang tak kenal kerupuk Geboy Putra, camilan gurih, renyah dengan berbagai rasa yang terkenal di Tasikmalaya, Jawa Barat? Adalah Asep Syuharto, yang mengarsiteki produk UMKM 'jagoan' Tasikmalaya itu.
Perjalanan suksesnya tak mudah didapat. Kerja keras, pengorbanan, serta ketekunan menjadi faktor kunci kesuksesan yang diraih lulusan D3 Administrasi Keuangan Universitas Padjadjaran. Perjalanan panjang tak kenal menyerah Asep dalam mengelola bisnis memberi pelajaran bahwa kerja keras menghasilkan buah yang ranum dan manis.
Menjadi pengusaha sama sekali tak terbayang olah Asep. Sewaktu kecil, ia mengaku bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Udara. Tapi takdir memang memiliki nalurinya sendiri, seiring waktu berjalan, cita-citanya berubah ingiin menjadi dokter anak. "Dulu kalau sakit, orang tua membawa berobat ke dokter umum, bukan dokter anak. Karena di kampung saya tidak ada dokter anak,†kenang Asep.
Jiwa wirausaha Asep yang terlahir dari keluarga pedagang mulai terasah selepas ia lulus dari Unpad. Bukannya sibuk melamar kerja, laki-laki yang ulet ini malah membuka warung kelontong dan kopi seduh.
Dengan modal pinjaman empat juta rupiah dari orang tuanya, ia membuka warung, dari jam 9 malam hingga pagi hari. Usaha tersebut dilakoni Asep selama delapan bulan. Dari usahanya ini, ia berhasil mengembalikan uang orang tuanya yang dijadikan modal.
Asep kemudian melebarkan sayap dengan menjadi agen pulsa, lalu membuka toko jersey serta aneka cindera mata Persib Bandung. Bobotoh, pendukung fanatik Persib, menjadi sasaran bisnis Asep kali ini. "Waktu itu saya berpikir, bagaimana caranya menonton pertandingan Persib sekaligus dapat penghasilan tambahanâ€.
Pada 2009, Asep membuka usaha warung internat (warnet) yang saat itu memang sedang booming. Dengan ketekunan, ketiga usaha yang dilakoninya berjalan lancar dan memberikan penghasilan relatif besar.
Pantang Menyerah
Tahun 2011, ketika usahanya berjalan baik, orang tuanya ingin salah satu anaknya bekerja di bank. Karena tak mau mengecewakan, Asep melamar di bank dengan bekal ijazah D3 Administrasi dan Keuangan, hingga akhirnya diterima bekerja di salah satu bank swasta dengan posisi account officer.
Karena harus fokus bekerja di kantor, Asep menyerahkan usahanya pada orang lain. Namun sayang, bisnis yang telah memberinya penghasilan harus tutup karena tak terkelola dengan baik. "Saya sedih, usaha yang saya rintis dari nol harus tutup. Tapi di sisi lain, orang tua bahagia saya diterima kerja di bank,†ungkap Asep.
Memasuki tahun ke empat, bank tempat ia bekerja mengalami kesulitan. Asep kemudian memutuskan pindah ke bank swasta syariah, namun hanya bertahan selama satu tahun. "Saya memutuskan keluar karena tidak sreg bekerja di bank dan memutuskan kembali membuka usaha. Akhirnya saya memutuskan mengelola usaha kerupuk yang sebelumnya dirintis orang tua," tutur Asep.
Dalam tiga bulan pertama mengelola, ia mulai menemukan ritme kerja. Melakukan perbaikan produk, rasa, kemasan hingga pemasaran. Segmen pasar juga digarap dengan serius. Memasuki bulan kelima mengelola bisnis kerupuk, ia kembali mengalami cobaan. "Waktu itu modal usaha habis, selama tiga bulan saya nggak ada pemasukan. Demi bertahan hidup, saya jadi buruh harian di tempat usaha kakak dengan upah Rp35.000 per hari.â€
Di tengah kesulitan keuangan yang ia hadapi, Asep menerima tawaran bekerja di sebuah bank BUMN. Gaji tetap yang ia terima setiap bulan bisa untuk menyambung hidup. Namun pada 2019 ia memutuskan keluar dari bank tersebut dan mencari peluang bisnis baru. "Teman saya menawarkan usaha pengadaan dan kontruksi. Alhamdulillah usaha ini berjalan dan memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga saya," kata Asep.
Dalam waktu bersamaan, ia harus menjalankan usaha kerupuk orang tua yang sebelumnya dipegang oleh kakaknya. Asep kembali menekuni passion-nya dalam bidang makanan olahan. Ia mengembangkan olahan kerupuk berbagai rasa dengan segmen pasar yang belum tergarap oleh produk sejenis. Ketika usahanya mulai berkembang, pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia.
Pasar yang ia garap hampir 99 persen tutup dan kini beralih ke penjualan online, memanfaatkan media sosial. Perlahan pasar mulai tergarap, usaha kerupuk menunjukkan hasil. Kerja keras dan ketekunannya tak sia-sia. Kerupuk Geboy Putra tetap eksis dan menjadi camilan favorit warga Tasikmalaya dan sekitarnya.
Follow media sosial kami untuk mendapatkan produk terbaik, informasi, pengalaman menarik dan inspiratif.
Kami adalah e-commerce hybrid, sebuah rumah untuk memasarkan produk UMKM Indonesia kualitas terbaik. Nikmati produk kuliner, fashion, kriya, minuman herbal, dan jasa. Juga rubrik Inspiring Life, Jurnal & Peraturan, Berita.