Koperasi dan UMKM | 20-May-2026

Martalena olah ikan invasif Danau Toba Red Devil jadi makanan ringan

Medan, 19/5 (ANTARA) - Martalena Manalu pemilik UMKM Aivah di Pardede Onan, Balige, Sumatera Utara, berhasil mengolah ikan invasif Red Devil yang membanjiri perairan Danau Toba menjadi makanan ringan yang memiliki nilai ekonomis.

 

UMKM yang berlokasi di Jalan Lumban Sisoding, Pardede Onan, Balige, Sumatera Utara itu sudah memproduksi Kerupuk Tayo-Tayo berbahan Red Devil. Kerupuk Tayo-Tayo Original yang sudah dipasarkan itu kini menjadi salah satu oleh-oleh khas daerah Danau Toba.

"Kami tertarik mengolah ikan Red Devil yang menjadi salah satu spesies ikan invasif yang berkembang pesat di perairan Danau Toba," katanya di Balige, Selasa.

Apalagi, selama ini, katanya, keberadaan ikan tersebut dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam populasi ikan lokal lainnya.

"Inovasi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal," katanya.

Martalena berharap dengan pengolahan Ikan Red Devil itu bisa bermanfaat pada lingkungan dan masyarakat sekitar Danau Toba.

"Produk ini bukan hanya menjadi camilan khas daerah, tetapi juga bagian dari upaya pemanfaatan ikan invasif agar memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar Danau Toba,” ujarnya.

Selain membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat, inovasi itu juga diharapkan mampu memperkuat identitas kuliner khas Danau Toba.

"Kehadiran produk olahan Ikan Red Devil menjadi contoh bagaimana tantangan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, " ujarnya.

Dia menjelaskan, sejak berdiri pada tahun 2023, UMKM AIVAH menjalankan sistem pre-order (PO) dalam pemasaran produknya.

Sebelum Tayo-Tayo dari Red Devil, AIVAH sudah memproduksi rempeyek dan bahkan ulos yang targetnya untuk oleh-oleh khas Toba.

Dia menyebutkan, untuk mengenal luaskan produk buatannya dilakukan melalui promosi media sosial dan dukungan komunitas lokal.

"Saya berharap produk Kerupuk Tayo-Tayo dari Ikan Red Devil bisa semakin mendapat pasar," katanya.

Dengan banyak terjual, maka kekhawatiran akan banyaknya Ikan Red Devil di Danau Toba bisa ditekan.

Martalena Manalu mengakui, saat ini produksinya rata- rata masih sekitar 6 kg ikan untuk 3-4 bulan.

"Kalau banyak kegiatan pemerintah, rata - rata bisa mengolah 3 kg ikan dalam satu bulan karena dijadikan oleh-oleh," katanya.



Martalena menyebutkan karena banyak, harga Ikan Red Devil itu termasuk murah atau Rp6.000 per kg. Sementara harga jual Kerupuk Tayo-Tayo Rp15.000 per bungkus isi 50 gram

"Saya berterima kasih sudah mendapat dukungan kuat dari Dinas Koperasi dan juga Inalum," katanya.


Pewarta : Juraidi
Editor : Abdul Hakim Muhiddin

Berita terkait

|

IKUTI MEDIA SOSIAL KAMI

Follow media sosial kami untuk mendapatkan produk terbaik, informasi, pengalaman menarik dan inspiratif.

SEKILAS

Kami adalah e-commerce hybrid, sebuah rumah untuk memasarkan produk UMKM Indonesia kualitas terbaik. Nikmati produk kuliner, fashion, kriya, minuman herbal, dan jasa. Juga rubrik Inspiring Life, Jurnal & Peraturan, Berita.

Copyright © 2026 | Powered by Bumi Alumni